Menulis Tak Hanya Bercerita Pada Orang Lain, Tapi Juga
Bercerita Pada Diri Sendiri di Masa Depan |
Menulis Saat Akses Internet Belum Mudah
Dulu sekitar pertengahan sembilan puluhan dan dua ribu
sepuluhan akses internet bagi saya masih sangat sulit. Maka untuk mencari
hiburan yang mudah diakses sesuai minat sangat susah. Televisi hanya
menayangkan acara favorit di hari atau jam tertentu saja. Acara tv saat itu
hanya berisi sinetron, acara musik, acara gossip atau kuis. Yah tidak jauh
berbeda dengan acara tv sekarang.
Maka untuk mengalihkan rasa suntuk biasanya saya menulis.
Menulis apa saja, gak perlu yang terlalu penting. Bisa saja ceritain gimana
susahnya tadi waktu cari alamat mau ke perpustakaan. Atau, gimana tadi gak tega
pas liat ada anak kedinginan di pinggir jalan atau hanya menuliskan pengalaman
mimpi aneh apa semalam. Menulis seperti mendokumentasikan pengalaman sekaligus
emosi sampai ke detilnya.
Sekarang apa yang mungkin akan saya lakukan jika sedang
mengalami itu semua. Mungkin saya akan membuka media sosial dan menumpahkan
semuanya di sana. Jenis bercerita yang belum pernah saya pikirkan dulu. Hanya
dengan menuliskan di salah satu akun media sosial namun bisa menjangkau banyak
orang dalam waktu yang singkat. Juga bisa mendapatkan tanggapan dalam waktu
singkat juga.
Kembali Membaca Tulisan
Membaca kembali tulisan sendiri itu membuat lega. Apa sebab,
karena saya bisa membaca kembali isi pikiran dan keruwetan yang dirasakan. Membacanya
seperti menyimak cerita orang lain dan kemudian bisa menilai sendiri bagaimana
harus bertindak. Seperti mengambil jarak dari masalah dengan begitu akan
terlihat peta masalahnya dan kemana seharusnya melangkah.
Pernah saat beres-beres buku saya membaca kembali semua buku
harian di masa sekolah dulu. Saat itu saya punya dua orang sahabat satu
laki-laki satu perempuan. Banyak sekali pengalaman yang lucu dan mengharukan
bersama mereka. Dalam ingatan saya hanya mengingat momen menyenangkan saja
bersama mereka, momen menyebalkan atau konflik kecil tidak terlalu saya ingat.
Dengan membaca kembali buku harian masa sma itu saya memperoleh gambaran sangat
rinci tentang hari-hari saya bersama mereka. Ada saat mengharukan,
menyenangkan, bahkan ada saat marah-marahannya juga.
Tak hanya pengalaman, namun saat mengalami pengalaman hidup
yang rumit dan pelik saya kadang juga menuliskannya. Bukan hanya tentang
kejadiannya tapi bagaimana tanggapan saya terhadap masalah yang kadang sangat
filosofis. Kadang ada yang lucu, tapi tak jarang juga ada yang membuat takjub
sendiri, ternyata saya pernah punya pemikiran sebijak ini dulu.
Membaca buku harian kembali sama saja seperti tidak sedang
membaca tulisan sendiri. Saya seperti membaca tulisan dari diri saya yang lain
namun di masa lalu. Dan diri saya di masa lalu itu adalah orang yang sama
sekali berbeda dari diri saya yang saat ini. Semuanya berbeda dari cara pikir,
pengalaman, minat musik atau acara drama. Seperti contohnya dulu saya hanya
menyukai drama korea dan sangat tidak menyukai sinetron. Sekarang saya hanya
sedikit menonton drama korea dan banyak menyimak sinetron di tv lokal yang
ternyata menurut saya sekarang banyak ceritanya yang menarik.
Keuntungan Membaca Kembali Buku Harian
Membaca kembali buku harian kembali bisa memberikan gambaran
untuk menghadapi masalah yang sama yang mungkin sedang kita hadapi sekarang.
Atau juga melanjutkan kembali mimpi lama yang sudah sempat terlupakan sekarang.
Bisa juga menularkan semangat dari diri kita sendiri di masa lalu yang sudah
sempat padam.
Manfaat Menulis Buku Harian Menurut Ahli
Manfaat menulis buku harian menurut Dr. James Pennebaker
dalam bukunya Writing to Heal, beliau
mengatakan bahwa terjadi peningkatan fungsi kekebalan tubuh saat menulis.
Karena pikiran atau pengalaman yang diterjemahkan kedalam bahasa kenyataannya
dapat membebaskan diri dari beban yang diatasinya. Karena stress biasanya
menyebabkan hambatan emosional.
Seperti yang saya ceritakan sebelumnya setelah menuliskan
dan membacanya kembali membuat perasaan saya menjadi sedikit lega. Mungkin
untuk sekarang medianya akan sedikit berbeda, tak akan berupa buku tapi bisa di
media sosial. Jadi pengalaman yang saya alami tak hanya akan dibaca sendiri
nanti, tapi juga orang lain yang apabila punya kesamaan pengalaman bisa
mengambil manfaatnya juga.
Menulislah untuk berbicara pada diri sendiri di masa depan,
menulislah untuk melepaskan stress, menulislah untuk berbagi pengalaman dengan
orang lain. Dan masih banyak manfaat yang lainnya dari menulis, selamat
menulis.
jadi inget dulu jaman SD punya buku diary yang ada kodenya hihi warna pink gambar anjing kecil 😁
BalasHapusaku juga suka banget mbak nulis keseharianku bahkan sampai saat ini meski sudah ada blog rasanya lebih nyaman nulis di buku hehe
kadang emang kalo lagi ruwet iseng baca-bca tulisan lama dan jadi tahu dulu aku kenapa dan gimana gtu hihi seru sih bisa flash back gtu
Relate ya ..
HapusEmang nulis di buku selalu menghadirkan sensasi beda
Bener banget! Kadang kalau lagi jenuh gak tahu mesti ngapain, buka buku diary yang dlu-dlu bisa menghibur diri
BalasHapusSeperti diceritain sama diri sendiri di masa lalu ya ..
HapusTerimakasih..
BalasHapus