Menulis Tak Hanya Bercerita Pada Orang Lain, Tapi Juga Bercerita Pada Diri Sendiri di Masa Depan Buku harian mungkin sudah mulai ditinggalkan karena banyaknya pilihan untuk mengalihkan pikiran yang sedang suntuk. Kadang tak semua yang dialami bisa diceritakan pada orang lain. Adakalanya juga hanya ingin merenung dan memikirkan kembali apa yang telah dialami. Tapi kalau hanya termenung malah bisa bikin tambah down. Beban yang ada di kepala seperti dilepaskan dengan menuliskannya dan setelah dibaca kembali seakan-akan sedang membaca kisah orang lain. Seperti mengambil jarak dari masalah dan melihatnya dari kejauhan sehingga bisa lebih jernih dalam mengambil keputusan. Menulis Saat Akses Internet Belum Mudah Dulu sekitar pertengahan sembilan puluhan dan dua ribu sepuluhan akses internet bagi saya masih sangat sulit. Maka untuk mencari hiburan yang mudah diakses sesuai minat sangat susah. Televisi hanya menayangkan acara favorit di hari atau jam tertentu saja. Acara tv saat itu ha...
September lalu saya pulang kampung ke Bangkalan Madura, untuk menghadiri acara pernikahan ponakan. Saya tinggal di sana selama hampir satu bulan. Di kampung saya tinggal di rumah orang tua yang bentuk bangunannya sudah tidak seperti rumah tradisional Madura lagi. Rumahnya terdiri dari empat kamar tidur, dua kamar mandi juga teras dan halaman yang cukup. Ada sebuah pohon tanjung dan sungai kecil dangkal mengalir di depannya. Selama sebulan tinggal di sana saya berfikir untuk pindah tinggal di sini saja. Mengingat semakin sulitnya untuk bertahan hidup di kota selama masa pandemi covid19 ini. Di Jakarta saya tinggal di sebuah kontrakan petakan yang serba terbatas dan rawan stress dengan kondisi yang semakin sulit. Suasana yang Nyaman di Kampung Tetanggaya di sana juga adalah bibi, paman, sepupu. Bila saatnya makan biasanya kami berkumpul untuk makan bersama membawa lauk yang kami masak dari rumah masing-masing. Setiap hari sangat terasa kekeluargaannya. Walaupun tidak se...