September lalu saya pulang kampung ke Bangkalan Madura, untuk menghadiri acara pernikahan ponakan. Saya tinggal di sana selama hampir satu bulan. Di kampung saya tinggal di rumah orang tua yang bentuk bangunannya sudah tidak seperti rumah tradisional Madura lagi. Rumahnya terdiri dari empat kamar tidur, dua kamar mandi juga teras dan halaman yang cukup. Ada sebuah pohon tanjung dan sungai kecil dangkal mengalir di depannya.
Selama sebulan tinggal di sana saya berfikir untuk pindah tinggal di sini saja. Mengingat semakin sulitnya untuk bertahan hidup di kota selama masa pandemi covid19 ini. Di Jakarta saya tinggal di sebuah kontrakan petakan yang serba terbatas dan rawan stress dengan kondisi yang semakin sulit.
Suasana yang Nyaman di Kampung
Tetanggaya di sana juga adalah bibi, paman, sepupu. Bila saatnya makan biasanya kami berkumpul untuk makan bersama membawa lauk yang kami masak dari rumah masing-masing. Setiap hari sangat terasa kekeluargaannya. Walaupun tidak setiap saat seperti itu.
Jika ingin pergi ke pantai maka dengan berjalan kaki tak lebih dari sepuluh meter sudah bisa melihat pemandangan pantai yang asri. Perahu nelayan yang berlayar di tengah laut untuk mencari ikan biasanya terlihat di pagi hari. Nelayan menjual tangkapannya langsung ke penduduk sekitar untuk langsung di konsumsi. Rasa ikannya sangat segar dan seperti ada rasa manis pada daging ikan yang masih baru.
Bagiku disamping curah hujan yang sangat rendah dan suhu udara yang bukan main panas setiap harinya. Kampungku tetap menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Masih banyak ruang terbuka, udara bersih, dan langit yang masih sangat biru karena tidak ada polusi. Juga dekat dengan keluarga dan warga sekitar yang masih ada hubungan kekerabatan.
Susahnya Tinggal di Kampung
Bagiku tinggal di kampung bisa melupakan sedikit beban kenyataan sulitnya tiggal di perkotaan sebagai orang pinggiran dengan pekerjaan informal sepertiku. Tapi tak semudah itu juga untuk bisa tinggal di kampung, sebab tinggal dimanapun kalau tidak bekerja maka akan sulit bertahan hidup. Bukan hanya pekerjaan tapi juga akomodasinya. Bagiku yang tak punya jenis kendaraan apapun, sangat sulit bahkan untuk pergi ke supermarket untuk membeli keperluan harian. Karena letaknya yang sangat jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki.
Sebabnya adalah keterbatasan angkutan umum.
Angkutan umum hanya lewat di pagi hari saja, dan penumpangnya kebanyakan orang yang akan pergi ke pasar. Jangan kelamaan belanja di pasar karena kalau bukan hari pasaran yaitu selasa dan jum’at jam kesiangan sedikit kamu tak akan menemukan kendaraan untuk pulang.
Lalu gimana caranya agar bisa ke supermarket atau pasar? Saya menumpang sepeda motor pada sepupu atau saudara lainnya. Bila ingin bepergian ke Surabaya atau kami menyebutnya orang Madura Jhebeh atau Jawa. Maka, menyewa mobil adalah solusiya. Karena apa yang terjadi bila sayamemilih angkutan umum, ya tidak bisa pulang juga kalau kemaleman, karena tidak ada angkutan umum yang akan membawa saya pulang.
Pernah suatu ketika saat pulang kampung, kakak dan ponakan pergi ke Bangkalan kota tanpa bilang kalau akan pulang sampai lewat maghrib. Mereka pergi dengan kendaraan umum dengan berpindah kendaraan di beberapa tempat. Setelah lewat maghrib mereka masih ada di kota Bangkalan dan tak dapat pulang karena tak ada kendaraan umum yang menuju ke dusun tempat kami tinggal. Akhirnya mereka dijemput menggunakan mobil saudara.
Untuk bisa mudah bepergian dengan bebas di kampung saya, harus punya kendaraan atau kalau tidak punya ya harus merogoh kocek agak dalam untuk level kemamapuanku.
Suka Duka Tinggal di Kota
Tinggal di kota khususnya Jakarta tempatku tinggal mudah sekali untuk bepergian. Kota ini seakan ramah sekali orang kecil untuk urusan angkutan umum. Saya bisa bepergian kemana saja di Jakarta tanpa memikirkan uang transportasi yang mahal.
Jaklingko, transjakarta, ojol dan kalau memang perlu taxi online dengan mudahnya di pesan tanpa menunggu lama. Jaklingko dan Transjakarta menggunakan kartu emoney dari bank yang sudah diisi saldo sebagai alat pembayaran. Jaklingko hanya perlu tap dua kali tanpa dipotong saldo, transjakarta selama tak keluar stasiun busway, seberapa seringpun transit maka hanya terpotong saldo tigaribu limaratus rupiah saja sepanjang perjalanan.
Untuk urusan mencari nafkah, sepertinya semakin sulit di saat seperti sekarang. Pandemi covid19 membuat pemerintah memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat. Terlebih bagi warga yang bekerja di bidang informal. Seperi pedagang kaki lima, penjual makanan di pinggir jalan, penjaja makanan keliling, juga termasuk saya sendiri yang hanya berjualan pulsa untuk menyambung hidup.
Resiko yang ditanggung oleh kami pekerja informal ini adalah sanksi dari petugas bila menyalahi pembatasan kegiatan. Juga resiko terpapar penyakit covid19 yang tinggi di perkotaan, dan yang paling berdampak adalah menurunnya pendapatan secara drastis. Pemenuhan kebutuhan harianpun semakin sulit.
Ketika keluar banyak sekali tulisan kontrakan kosong, rumah ini di jual, atau saat membuka laman media sosial banyak penjualan perabot rumah tangga seisinya. Bukan hanya kulkas atau tv saja, tapi juga termasuk lemari pakaian, tempat tidur, dispenser, kursi, kipas angin dan seluruh isi rumah lainnya.
Kembali ke Kampung Halaman
Apakah mulai banyak orang yang berpindah ke pekampungan dan meninggalkan perkotaan? PHK atau menurunnya pendapatan secara drastis saat pandemi ini memaksa orang-orang untuk kembali ke kampungnya masing-masing. Karena sudah tak mampu lagi bertahan di kota. Resiko terpapar covid yang rendah dan terbebas dari biaya sewa rumah perbulan mungkin menjadi alasannya.
Banyak saya mendengar kisah saudara atau teman yang telah pindah ke kampung. Mereka yang beruntung bisa mengerjakan pekerjaannya secara online dari kampung. Berkantor di kota kerjanya di kampung secara online. Bisa tenang tinggal dengan orang tua mereka di kampung. Bagi yang punya modal dan punya kemampuan bisnis, mudah saja untuk memulai bisnis lagi di kampung mencoba peruntungan baru di sana.
Betapapun mudahnya fasilitas di perkotaan, tapi kalau sudah sangat sulit untuk mencari nafkah di sana maka kembali ke kampung halaman adalah pilihan.
Tapi, apa tinggal di kampung akan lebih baik keadaannya dari kota? Belum tentu juga, setidaknya tinggal di kampung akan lebih nyaman suasana lingkungan dan kekerabatannya.
Saat kemunculan pandemi covid19 ini banyak bermunculan isu mental health. Maka setidaknya walaupun hidup di kampung masih sulit juga mendapatkan nafkah, setidaknya kondisi lingkungan yang masih asri dan kekerabatan warganya membuat hidup lebih nyaman hingga terjauh dari isu gangguan mental health.
Saya juga pernah merasakan tinggal di Jakarta dari 2010-2019, dari yang jalanan macet tapi tak begitu macet, sampai ya macet ruwet. Dari dl Jakarta ya begitu itu, ditambah sekarang apa lagi.
BalasHapusMungkin tiap orang punya levelnya dan masalahnya masing² ya, dan intinya semua harus dihadapi dengan cara terbaik.
Skr sy nyaman tinggal di daerah di Jawa Timur, mutasi yang membawa berkah dan berharap yang terbaik, bisa menjadi bagian di sini dan memulai hidup baru di sini. Untungnya masih bujangan, jadi masih freedom menentukan pilihan, kemana dan dimana.
Keep fight for life!
Alhamdulillah ya mendapatkan kesempatan untuk tinggal di tempat yang menurut kita ideal.
HapusTempat ideal bagi setiap orang memang relatif ya..
Mudah mudahan suatu saat sayapun punya kesempatan untuk tinggal di tempat yang paling ideal..
Terimakasih sudah membaca dan memberikan komentar.